Skip to content Skip to footer

Seniman Komik

Eko Nugroho

 E

ko is many things in contemporary Indonesian art scene. The world know him as the most accomplished young generation of contemporary artists from Indonesia. He was, afterall, one of The 2013’s Power 100, a list of 100 most powerful people in international art world in 2013. At that time, Eko had projects for Louis Vitton, Venice Biennale, and mural in France Le Mur. He works in as many mediums he can get his hands into: animation, poster, embroideries, giant lampion, murals, and photocopy-comics.

But he was one of a strong figure in Indonesian comics, especially the Jogjakarta based independent comics scene. He is both an activist and a thinker in comics. He was playing around with experimental comics and lowbrow gag humor strips format. In early 2000, he published his comics with photocopy machine and distributed some of his cheap mini-comics to a traditional market behind his rented house with his wife. At the same time, he also created many experimental comics, photocopied and distributed to his fellow art students in Jogjakarta and other Indonesian cities.

He developed The Daging Tumbuh movement, centered on the publication of his photocopy art journal that dismissed any kind of hierarchical judgment of “good or bad art”. The Daging Tumbuh became a collective of indie artists and often published comics that challanged the establishment of taste in comics industry.  He is still making comics, still playful and political in his comics and other form of works. 

 E

Eko adalah banyak hal dalam dunia seni kontemporer Indonesia. Dunia mengenalnya sebagai salah satu seniman muda terampil terbaik dari Indonesia. Dia adalah salah satu dari 100 orang terkuat di dunia seni internasional pada tahun 2013, yang terdaftar dalam Power 100 pada saat itu. Pada saat itu, Eko memiliki proyek untuk Louis Vitton, Venice Biennale, dan mural di Le Mur Prancis. Dia bekerja dengan sebanyak mungkin media: animasi, poster, sulaman, lampion raksasa, mural, dan komik fotokopi.

Namun, dia juga merupakan sosok penting dalam komik Indonesia, terutama di Jogjakarta yang merupakan pusat dari komik independen. Dia merupakan seorang aktivis dan pemikir dalam komik. Dia bermain-main dengan format komik eksperimental dan lowbrow gag humor strips. Pada awal tahun 2000, dia menerbitkan komiknya dengan mesin fotokopi dan mendistribusikan beberapa mini-komik murahnya ke pasar tradisional di belakang rumah sewanya bersama istrinya. Pada saat yang sama, dia juga menciptakan banyak komik eksperimental, difotokopi dan didistribusikan kepada rekan mahasiswa seni di Jogjakarta dan kota-kota Indonesia lainnya.

Dia mengembangkan gerakan Daging Tumbuh, yang berpusat pada publikasi jurnal seni fotokopi miliknya yang menolak segala jenis penilaian hierarkis tentang “seni bagus atau buruk”. Daging Tumbuh menjadi sebuah kolektif seniman indie dan sering menerbitkan komik yang menantang pengesahan rasa di industri komik. Dia masih membuat komik, masih bermain dan politis dalam karyanya dan bentuk-bentuk karyanya lainnya.